Kamis, 27 Mei 2010

"The Alimers"

" Hai segenap umat manusia, kalian kuciptakan sebagai laki-laki dan perempuan dan kujadikan berbagai suku dan berbangsa-bangsa untuk saling berbudi luhur (tidak bermusuhan). Sesungguhnya yang paling mulia dan tertinggi martabatnya di sisi ku adalah orang yang berbudi luhur dan paling banyak jasanya"

( QS. Al Hujurat, 13 )

Seperti dijelaskan oleh ayat diatas, kita memang diciptakan dalam berbagai macam suku dan bangsa. Begitu juga dengan sifat, kita diciptakan dengan sifat yang berbeda - beda supaya terjadi keseimbangan dan harmoni dalam hidup.

Sebagaimana terjadi di dalam dunia matematika, hal ini tentu saja ada. Ada yang sangat rajin, ada juga yang sangat malas. Tapi bukan itu yang ingin saya sorot.

Sebuah rasa hormat kepada para mahasiswa yang ingin menjaga kesuciannya. Banyak pandangan yang tertuju kepada mereka. Pandangan negatif maupun positif. Tak jarang dari kita justru "mengejek" penampilan mereka.

Tapi, coba lihat kedalam diri kita sendiri. Apakah kita mampu menjaga iman kita seperti mereka yang selalu ingat kepada-Nya? Introspeksi diri kita terlebih dahulu sebelum kita mengatai orang lain. Dengan sepenuh hati mereka ingin menjaga kesucian mereka dan selalu menjadi pribadi yang selalu diperhatikan oleh Allah SWT, Sang Pencipta.

Tulisan ini saya persembahkan untuk mereka yang selalu berjuang di jalan-Nya dan juga untuk orang-orang yang selalu memberi pandangan hina kepada mereka supaya kelak orang-orang itu mampu kembali menuju jalan yang di ridhoi oleh Allah SWT. Lanjut . . .

Hilangnya Sang Pakdhe


Winta A. Wardhana


Begitulah nama yang tertulis di lembar absen setiap mata kuliah matematika 2008. Seseorang dengan perawakan tinggi, berkacamata, bermuka tua dan dengan khas rambut gondrong. Awal aku bertemu, aku kira dia adalah angkatan jauh diatasku. Ternyata dugaanku gak salah juga. Dia memang mahasiswa matematika angkatan 2008, tapi sebelumnya dia adalah mahasiswa program studi ( prodi ) Komputer dan Sistem Informasi ( Komsi ) angkatan 2007.

Mulai akrab sewaktu acara malam keakraban ( makrab) yang bernama sign ini as mathematicians ( Sigma ). Menjadi kenal hanya gara - gara sama - sama memiliki pertanyaan - pertanyaan bodoh yang bahkan sangat tidak masuk akal.

Di semester 1 dan 2, masih sering terlihat gerak tingkahnya. Bahkan, dia masih menjadi panitia makrab yang bernama nuansa malam keakraban matematika (numerik). Entah bagaimana ceritanya, Ayick yang pertama kali memanggil pria yang akrab diundang Dhana ini dipanggil Pakdhe.

Dia adalah salah satu atlet billiard dari matematika angkatan 2008. Selain itu, dia juga seorang kiper dan pemain badminton. Banyak sekali keahlian yang dia miliki.

Hingga pada akhirnya awal semester 4, diketahui bahwa namanya tidak tercantum pada daftar mahasiswa matematika yang mendaftar ulang. Menurut kabar dari Ayick, ayahnya sedang sakit jadi dia harus menjalankan bisnis keluarganya.

Aku harap, dia bisa kembali lagi ke lingkungan matematika.
Lanjut . . .

Tersisihnya 3 Orang



Dunia Matematika begitu adanya.


Beragam jenis sifat dan kelakuan dari anak matematika. Penuh misteri dan ada juga yang sangat mudah ditebak ruang lingkup geraknya. Sesaat datang dan pergi. Seolah hidup mereka monoton.

Yah,memang sepertinya nama besar Universitas Gadjah Mada ( UGM ) begitu memikat di kalangan siswa yang hendak lulus SMA dan merupakan salah satu pilihan bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan mereka. Mungkin merupakan sebuah kebangaan tersendiri ketika mereka menjadi mahasiswa dengan menyandang nama besar UGM.

Ini mungkin terjadi juga di kalangan mahasiswa matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam ( FMIPA ). Ketika awal perkuliahan, pasti tak sedikit dari mereka yang merasa bangga dirinya bisa diterima di UGM ini. Seolah masa depan cerah, banyak yang berlomba - lomba untuk menjadi yang terbaik. Seolah kehidupan sosial tak penting bagi mereka yang ingin mendapatkan Indeks Prestasi ( IP) tertinggi di angkatannya, bahkan hingga lulus nanti.

Awal aku masuk, aku bertemu dengan trio orang cerdas menurut versiku. Mereka adalah Mathias Mahendra, Zainuddin Nafarin, dan Putra Andika Hermen. Ini terlihat dari bagaimana cara mereka menyelesaikan permasalahan (soal) yang ada di awal kuliah. Pada waktu itu, aku masih belum mendapatkan feel di dunia perkuliahan.

Sedikit mengejutkan saja, di akhir semester satu IP kami pun akhirnya muncul. Sesuai dugaan, Andika mendapatkan IP 3,26. Zai dan Hendra? Saya kurang tahu juga bagaimana dengan mereka tapi menurut kabar IP mereka tak sebagus Andika.

Diawal semester dua, ternyata Zai dan Hendra sudah terlihat jarang masuk kuliah. Terdengar berita angin bahwa mereka berdua mau pindah jurusan. Waktu Ujian Tengah Semester ( UTS ) semester dua, mereka berdua masih terlihat mengikuti ujian.

Ternyata kabar itu benar. Zai mau pindah ke Ilmu Komputer ( Ilkom ) karena memang dulu waktu di awal pilihan pertamanya adalah Ilkom. Hendra ternyata menjatuhkan tujuannya ke Fakultas Ekonomi. Memang sudah terlihat diawal jika dia seorang businessman.

Akhirnya mereka berdua telah resmi menjadi mahasiswa angkatan 2009 di tempat yang mereka inginkan. Berkurang dua sudah penghuni matematika 2008.

Jumlah mahasiswa matematika 2008 yang berjumlah 58 orang kini sudah tereduksi menjadi 55 orang. Loh??? Ternyata Hairul Rozy juga pindah. Hanya ada kabar bahwa dia kembali ke kampung halamannya, tapi tak ada yang tahu alasannya.

Apakah UGM benar - benar "sebesar" namanya?

Entahlah, yang penting mereka tetap bagian dari Matematika 2008 UGM. Semoga saja mereka masih menyimpan jaket kebanggaan itu. Jaket yang memiliki lambang angka "18808".
Lanjut . . .